Selasa, 28 Januari 2014

Rangkuman BAB XI dan XIII teori-teori kebudayaan




XI.   BUDAYA SEBAGAI TEKS

Menurut peneliti, budaya atau kehidupan sosial ditempatkan sebagai teks yang dapat diinterpretasikan. Meskipun merupakan  pusat berbagai bentuk penelitian strukturalis dan pascastrukturalis, penelitian terhadap cerita menjadi semakin kuat dalam bidang teori narasi dan harmaneutis.
STRUKTURALIS PUITIS (STRUKTURALIST POETICS)
Penelitian strukturalis bergerak dari penelitian Saussure dan Levi-Strauss, dipusatkan pada paradigm budaya dengan unsur sentralnya yaitu analisis oposisi biner. Ciri lain dari strukturalis adalah memperhatikan investigasi terhadap cerita dengan cara menopangnya melalui penataan kata. Tema sentralnya disampaikan dalam bentuk relasi antara alur (plot), karakter, dan jenis cerita (genre).
·         VLADIMIR PROPP (1895-1970)
Ia merupakan seorang strukturalis awal yang mengevaluasi struktur budaya. Ia mendahului Levi-Strauss dalam menyelidiki kisah mitologi. Propp tertarik pada model penataan cerita tradisional secara tematis. Ia mencatat adanya kesamaan (similiarity) struktur dari ratusan cerita yang ditelitinya.
                Dari  penelitian Propp , ada beberapa hal yang perlu dipertaanyakan, misalnya apakah struktur jenis cerita yang lain mengikuti struktur cerita rakyat? Apakah struktur cerita rakyat berhubungan dengan kondisi kongkret dan dibutuhkan masyarakat? Apakah struktur cerita rakyat menunjukkan sesuatu diluar dirinya sendiri?
                Dilihat dari pertanyaan diatas kelemahan Propp adalah ia tidak mengangkat persoalan mendasar yang diajukan Levi-Strauss yaitu universalitas pasangan yang beroposisi; kebutuhan atas mitologi untuk membantu manusia merenungkan dilema dan eksistensi hidupnya, dan hubungan mitologi dan hasil karya pikiran manusia. Propp lebih terlibat dalam penelitian strukturalis yang mengganti unsure estetis dalam sastra tradisional dengan hal yang bersifat ilmiah, dan menafsirkan dengan model bebas-nilai.
·         NORTHROP FRYE (1912-1991)
Sejak tahun 1950-an, Northrop mencoba untuk membangun model tiruan (synthetic model). Dalam buku Anatomy of Criticism (1971[1957]) ia mencoba untuk menata keseluruhan sastra yang ada dalam sebuah bingkai atau penggolongan yang koheren. Menurutnya, relasi yang terstruktur dapat menghubungkan karakter, alur dan aliran-aliran dari berbagai bentuk keusatraan. Salah satu pemikirannya, Frye berupaya membuat teori antar alur (plot) dan jenis-jenis cerita (genre). Menurutnya, bentuk-bentuk sastra cenderung menggunakan hal particular dengan berpegang pada tujuan utama.
Dalam seluruh penelitiannya, Frye mempelajari narasi dalam sistematika pijakan ilmiah dengan mengidentifikasi hal-hal mendasar yang melampaui perbedaan-perbedaan superficial, seperti gaya, waktu, karakter tokoh. Melalui hasil interpretasi, Frye meneliti narasi dengan menjauhi subjektivisme mennuju perbandingan formal dalam “archetypal criticism” sastra sebagai keseluruhan.
KRITIK TERHADAPSTRUKTUR PUITIS
Tantangan bagi “strukturalis puitis” adalah mengembangkan perspektif yang mencakup bentuk-bentuk narasi seperti yang ditampilkan dalam beberapa aliran sastra.
Pendekatan struktur puitis yang dicontohkan oleh Propp dan Frye mempunyai beberapa poin penting, yaitu;
1.       Dari sudut pandang sosiologi,pendekatan ini memberikan bukti kokoh bagi pemahaman cerita sebagai gambaran realitas social yang kadang tidak disadari baik penulis maupun pembacanya.
2.       Membuka peluang dalam mengkonstruksi teori dan analisis untuk mengeksplorasi makna yang terkandung dalam teks.
3.       Hadirnya makna yang terus bergerak dalam struktur yang berulang menujukan adanya otonomi budaya terhadap teks.
4.       Eksplorasi terhadap karakter atau jenis cerita menunjukkan adanya nilai-nilai transkultural sehingga memungkinkan penelitian secara lintas budaya.

·         MIKHAIL BAKHTIN (1895-1975)
Cara dialogis merupakan langkah menuju kreativitas dan aspek rasional dalam kisah novel.Konsep utama Bakhtin adalah dialogis dan carnival. Konsep ini dipakai untuk mengkritik “simbol” saussurian dengan menyebut symbol sebai perspektif “objektivisme abstrak” karena gagal memahami berbagai cara perubahan makna menurut perubahan waktu dan konteks social yang dimiliki pembaca.
Menurut Bakhtin, pemahaman strukturalis bersifat monolog, dimana pembaca ditempatkan secara pasif. Ia menghindari perangkap “subjektivisme individu” yang mengartikan makna sebagai hasil proses mental personal.
Bakhtin menekankan aturan dari konteks sejarah dalam membentuk makna kata dan tanda. Makna kata dan tanda ini akan berubah seturut waktu, begitu jugakelas social yang menggunakannya. Oleh karena itu, kata-kata dan tanda-tanda kerap akan menjadi ambigu dan dikarakterkan oleh berbagai macam aksentuasi.
Bakhtin mampu membuat teori tentang aturan bagi pembaca dan konteks local ketika masih diakui adanya prosses pemaksaan oleh bahasa dan symbol-simbol kolektif dalam proses interpretesi. Pemikiran dekat dengan teori pasca strukturalis yang menekankan kompleksitas, kekuasaan dan ambivalensi.
·         BAKHTIN TENTANG CARNIVALESQUE (KEKARNAVALAN)
Selain dampak-dampak dalam bingkai narasi bagi peristiwa tertentu, juga dimungkkinkan adanya penelusuran atas genre atau bentuk narasi dan atas konsekuensi-konsekuensi yang kurang spesifik, transhistoris, social atau politik. Dengan mencampurkan data sastra dan data sejarah, Bakhtin menyoroti bagaimana estetika karnaval kerakyatan menggerakkan tulisan Rabelias. Estetika ini berfokus pada hal-hal yang bersifat sensual, fantastic dan eksesif, serta perhatian sangat besar pada genre seputar makan, ekskresi, kekuatan, gelak tawa dan seksualitas.
·         UMBERT ECO (1932) DAN PERAN PEMBACA
Umberto Eco adalah seorang ahli semiotic Italia, ia mengemukakan bahwa “pengarang haruslah berusaha agar perangkat sandi yang ia yakini dapat ditangkap calon pembaca. Pengarang harus dapat memahami calon pembacanya”.
Eco membedakan antara teks tertutup dan terbuka. Teks tertutup merupakan karya populis yang bertujuan memunculkan tanggapan para pembaca empiris, sebaliknya teks terbuka dirancang untuk memberi jalan bagi munculnya penafsiran jamak. Peranan pembaca dalam teks tertutup maupun teks terbuka, eco menyoroti peranan antisipasi, lompatan penyimpulan, fantasi, identifikasi dan tindakan pemecahan masalah.
Tiga hal yang ditegaskan Eco menyangkut peran pembaca
a.       Sandi semiotic dan sandi narasi bukanlah semata-mata hasil logika atau tata bahasa cultural transedental, melainkan sebuah akibat dari strategi tekstual dimana pengarang berusaha berkomunikasi dengan pembaca.
b.       Pembaca memiliki kebebasan untuk menafsir, dalam menelaah konstruksi makna juga harus diamati sandi-sandi cultural teks.
c.       Teks akan beragam sesuai dengan apa yang diharapkan untuk menutup kebebasan penafsiran pembaca.
·         NARASI DAN PROSES SOSIAL
Analisis narasi merupakan merupakan aktivitas kaum teoretikus sastra yang tertarik pada studi teks, ranah ini banyak membahas isi kebudayaan dan lewat model ketat serta structural, memberi dasar perumusan otonomi bentuk-bentuk kebudayaan. Hal ini secara umum dapat diamati tiga tema pokok;
a.       Studi tentang genre dan audiens. Studi ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa bentuk narasi tertentu, menarik dari kelompok tertentu, atau bagaimana bentuk narasi itu berlembaga dan tersebar luas.
b.       Telaah dan narasi dalam metodologi kualitatif. Sastrs ini berkembang luas dalam studi wawancara dan terutama penyelidikan kaum feminis dan kaum interaksionis tentang pengalaman pribadi yang diajukan teori kritis atau teori pasca structural.
c.       Sandi tentang aspek naratif hidup social dan politik. Studi ini menyelidiki peristiwa social dan historis sebagaimana dibentuk wacana, serta menunjukan bahwa peristiwa itu sering kali mempunyai matra naratif.

·         VICTOR TURNER DAN DRAMA SOSIAL
Turner melihat hidup social sebagai sebuah tampilan yang memuat imajinasi, permainan, dan kretivitas. Meskipun makna diterapkan setelah kejadian (post-hoc) dalam cerita tentang peristiwa sejarah, maka juga mempengaruhi aktivitas para pelaku kokngkret yang terlibat dalam peristiwa kongkret.
Karya turner berpusat pada proses strukturisasi drama social. Menurutnya, drama social sering menunjukkan karakteristik yang menyerupai alur dan rentetan peristiwa biasa yang bisa dikelompokkan kedalam fase-fase yang saling menggantikan/suksesif.
Dalam risetnya, Turner paling berminat meneliti soal krisis empat fase yang berciri universal;
a.       Pembangkangan (breach) yakni pelanggaran public atas aturan atau patokan komunitas tertentu.
b.       Terjadinya krisis (crisis) yakni periode skisma social saat masyarakat mengambil sikap.
c.       Penarikan diri (redress) yang terjadi pada saat upaya-upaya pemulihan konflik dan arbitrasi dimulai.
d.       Penyatuan kembali (reintegration) yang meliputi upaya menggabungkan kembali kelompok-kelompok social yang tadinya membangkang kedalam masyarakat umum atau pengakuan dan legitimasi atas siksma yang telah terjadi.
Analisis narasi dan politik

·         HERMENEUTIKA
Ada jalinan erat  antara tradisi hermeneutikan dalam ilmu-ilmu social dan mereka yang mengajukan pentingnya atau sentralnya narasi dalam hidup social. Hermanautika membahas makna dan pembahasan bersama, dan secara tradisional ia bersifat subjektif, humanistic, individualistic, estetis, filosofis, dan berorientasi fenomenologis.
Dua sumbangan pokok dari Hans Georg Gadamer dan Paul Ricoeur dalam ranah hermeneutika dan studi kebudayaan;
a.       Keduanya menekankan rekonstruksi sitem makna yang menjadi basis infosmasi tindakan penulisan. Selain bersifat personal dan psikologis, sistem ini bisa diletakkan dalam konteks budaya yang lebih luas yang digunakan pengarang dalam penciptaan teks. Rekonstruksi ini penting bagi suatu pembentukan kerangka atau cakrawala tafsir (horizon of  interpretation), yang dengannya teks bisa didekati dan dipahami dengan keakuratan tertentu oleh si pembaca.
b.       Argument Gadamer dan Ricoeur brjasa memberikan dasar-dasar filosofis untuk melegitimasi pendekatan hermeneutis dalam studi ilmu-ilmu social.
·         CLIFFORD GEERTZ
Geertz adalah penganut Parsons. Dalam perkembangannya ia meninggalkan teori Parsons. Geertz menegaskan bahwa budaya adalah suatu dimensi yang aktif dan konstitutif dari kehidupan social daripada sekedar mekanisme penjamin integrasi social. Geertz mulai meninggalkan istilah norma-norma dan nilai-nilai untuk menjelaskan kehidupan budaya.selanjutnya ia beralih pada pemahaman yang jauh lebih kaya tentang kebudayaan.
Karakteristik penyelidikan Greetz adalah bahwa ia enggan menggunakan teori umum atau berusaha membangun model-model umum, peristiwa dijelaskan dalam istilah local terkadang agak relativities atau tautologies. Dalam pandangannya, seorang teoretikus adalah seorang penafsir yang menerjemahkan dunia-dunia makna budaya yang mereka pelajari kedalam idiom pembaca-pembaca mereka. Geertz juga menyoroti fakta bahwa antropologi merupakan proses tekstual daripada praktek ilmiah.

·         SEJUMLAH KRITIK
Kebudayaan bukan lagi dilihat sebagai suatu “yang berada diluar sana” yang menuggu direkam, melainkan lebih dilihat sebagai suatu yang dikonstruksi secara aktif lewat gugus kegiatan para etnografer. Budaya itu dipertandingkan, budaya bersifat sementara, dan tampil (hadir). Oleh karena itu, yang diperlukan adalah studi mengenai representasi-representasi dan cara-cara membangun realitas yang ingin mereka gambarkan. Budaya kini bisa dilihat sebagai wilayah pertandingan gugus representasi dan wacana, yang berjuang untuk mendapatkan pengakuan, otoritas, dan suara.


XII. ANALISIS BUDAYADARI PASCAMODERNISME DAN PASCAMODERNITAS
KLARIFIKASI SEJUMLAH DEFINISI POKOK
a.       Defenisi pascamodernisme. Pascamodernisme tidak memiliki definisi tunggal yang selalu kita acu dan jadikan pegangan. Namun setidaknya pascamodernisme mempunyai dua karakter pokok; pertama gaya estetis dan artistic yang menolak kode-kode artistic dak estetis dari era modernism. Kedua posisi teoritis dan filosofis yang menolak kaidah-kaidah pemikiran modern.
b.       Definisi pascamodernitas. Sebuah tahap perkembangan social yang dipikirkan sebagai melampaui modernitas. Ide pokok yang diangkat disini ialah bahwa telah terjadi perubahan yang radikal dari ekonomi era industry yang berkekuatan seputar produksi barang dan jasa menuju ekonomi pasca industry yang diorganisasikan seputar konsumsi budaya, permainan media massa, dan perkembangan teknologi informasi.
c.       Definisi pasca modernisasi. Sejumlah proses perubahan social yang mengarah pada transisi dari modernitas menuju pascamodernitas.
d.       Globalisasi. Proses dimana dunia tempat kita hidup menjadi semakin terhubung satu sama lain, dan dunia dimana batas-batas politis, budaya, ekonomis yang tadinya ada sekarang semakin rapuh, mengabur, bahkan dianggap kurang relevan.
Cirri budaya masyarakat modern.
a.       Pengaruh budaya dan media massa menjadi sedemikian kuat dalam hidup social daripada era sebelumnya.
b.       Hidup social dan ekonomi lebih berkisat pada konsumsi symbol-simbol dan gaya hidup daripada produksi barang yang menjadi cirri khas sierra industry.
c.       Serangan atau kritik atas ide tentang realitas dan representasinya.
d.       Muncul aneka ragam parody, pastiche, ironi, kitsch, dan elektisme pop seperti tampak dalam pementasan kesenian tradisional.
e.       Bentuk arsitektur urban menjunjukan gejala penonjolan hiburan, “leha-leha” dan gaya hidupseperti paling jelas tampak dalam pusat-pusat perbelanjaan, taman hiburan dan komplek hunian seperti real estate, kondominium dan apartemen.
f.        Hibridas dipuja, rigiditas distingsi (klasifikasi, batas-batas, seperti batas budaya tinggi atau elite dan budaya rendah atau populer) semakin mengabur atau bahkan ditinggalkan.
PASCAMODERNISME DALAM BERBAGAI BENTUKNYA
·         PASCAMODERNISME DALAM ARSITEKTUR
Arsitektur modern mempunyai 3 ciri pokok;
1.       Bentuk cenderung sebangun (univalent)
2.       Bangunan dikonstruksi seturut metafora mesin era industry
3.       Para desainer mempunyai ide-ide utopis.
4.       Kritik senada diutarakan Robert Venturi dan kawan-kawan, menurut mereka, para arsitek perlu lebih memahami dan kurang otoriter dalam orientasi.
Cirri pokok arsitektur pascamodern;
1.       Member tekanan pada desain yang main-main dari pada serius.
2.       Elektisme radikal, hybrid dan adhock-ism menggantikan keseragaman monumental.
3.       Bentuk bangunan cenderung meniru gaya atau bentuk bangunan yang lain dan cenderung meleburkannya dalam pastiche yang ironis daripada berusaha untuk membuat sebuah karakter yang khas-personal.
4.       Desain cenderung terfragmentasi, diman bagian-bagian dari bangunan terpasangkan secara fungsional dan estetis, namun sekaligus terisolasi satu sama lain msing-masing dengan gaya dan lingkungan sendiri-sendiri.
5.       Bangunan berorientasi pada pemenuhan atau menjawab kebutuhan orang biasa, dank ode semiotic yang bisa mereka tangkap dan mereka nikmati.
6.       Penggunaan kurva dan gang buntu alih-alih trapezium dan garis lurus.

·         PASCAMODERNISME DALAM SENI DAN SASTRA
Perkembangan serupa juga  terjadi diranah seni dan sastra, kode-kode estis dari modernisme biasanya menjunjung tinggi karya-karya yang serius, yang konsisten secara internal, inovatif, dalam, abstrak dan digarap oleh sosok individu yang jenius. Selain itu seni modern kurang lebih merayakan nalar, tatanan, dan pengetahuan sekaligus membawa pesan-pesan tertentu tentang bagaimana dunia itu.
Sebaliknya, karya seni pacsamodern digerakkan oleh roh estetisyang berbeda. Mereka cenderung bercirikan main-main, terpecah, sering kali menggunakan pastiche dan mereplikasi, merayakan sisi irasional dan trkadang juga membuka ruang seluas-luasnya untuk tafsir tanpa perlu menjadi pakar terlebih dulu dibidang seni.
Karya-karya pasca modern juga tidak jarang mempersoalkan disintegrasi atara kebudayaan tinggi dan rendah. Dalam ranah sastra dan perfilman tampak jelas penolakan terhadap alur tutur tradisional dan bahwa film dan karya sastra harus membawa atau menyampaikan pesan moral tertentu yang jelas.
·         PASCAMODERNISME DALAM TEORI-TEORI SOSIAL
1.       Jean-Francois Lyotard (1905-1998)
Diakui sebagai salah seorang konseptor awal dari pascamodernisme, Lyotard yakin bahwa masyarakat iru disusun bukan melulu berdasarkan teknologi, namun juga seputar permainan bahasa dan diskursus. Maka ia mencoba membetot perhatian kita pada peran narasi-narasi dalam hidup social. Dalam masyarakat nonindusrtri, mitos dan cerita mempunyai karakter religious dan ikut membantu menciptakan tatanan social.
Dewasa ini menurut Lyotard kita memasuki pintu gerbang era pascamodern dimana sains, teknologi dan sistem administrasi yang njlimet, serta computer berkembang sedemikian pesat sehingga pengetahuan menjadi prinsip produksi yang menentukan selama beberapa decade ini.
Pengetahuan dan informasi berkembang menjadi dua macam cara yang saling berkaitan; pertama, pengetahuan dan informasi diproduksi hanya jika mereka bisa dinilai berdasarkan efisiensi dan evektifitas atau dalam terminology khas Lyotard, prinsip performativitas. Kedua, pengetahuan atau informasi semakin diperlakukan sebagai sebuah komoditas. Informasi menjadi sebuah fenomena yang bisa diperdagangkan.
2.       Jean Baudrillard
Seperti Lyotard, Baudrillard adalah seorang tokok kunci pemikir atau teoretikus konsep pascamodern. Baudrillard melihat bahwa dalam masyarakat consumer, orang mengafirmasi identitas sekaligus perbedaannya, dan mereka juga mengalami kenikmatan lewat membeli dan mengonsumsi sistem tanda-tanda yang dimiliki bersama. Kode ini menjadi sedimikian dominan sehingga kita terdorong untuk mempertanyakan sejumlah konsep-konsep pembeda yang selama ini kita terima begitu saja seperti budaya dan realitas.
Dengan demikian, kita mengalami satu sama lain sebagai semata-mata para pemain dalam lapangan tanda-tanda, dan secara pasif kita mengalami kejutan-kejutan dan pengilon (simularca) yang merefleksikan satu sama lain.
3.       Daniel Bell
Daniel Bell dianggap sebagai seorang pemikir modern yang berhasil menyoroti kekuatan pengetahuan dan budaya yang semakin meningkat dalam masyarakat kontemporer. Menurut Bell kita mengalami evolusi dari masyarakat industry menuju masyarakat pascaindustri. Masyarakat kontemporer, yang ada dalam benak Bell adalah masyarakat pascaindustri seperti Amerika Serikat, terbagi menjadi tiga ranah yaitu struktur social, politik, dan budaya. Hadirnya masyarakat pascaindustri meliputi perubahan dalam struktur social, khususnya ekonomi, dunia kerja dan sains-teknologi.
4.       Fredric Jameson
Untuk menjelaskan bangkitnya kesenian pascamodernis, Jameson menggunakan kerangka berfikir neo-Marxis. Lewat kerangka berfikir tersebut ia melihat bahwa kita sekarang telah memasuki fase kapitalisme lanjut yang mempunyai ciri-ciri;
a.       Sirkulasi taanda dan symbol yang tak ada henti-hentinya.
b.       Arus informasi berskala global.
c.       Konsumsi imaji yang hedonis.
Ekonomi yang mendasarkan diri kepada konsumsi imaji inilah iang oleh Jameson disebut sebagai ‘’logika budaya kapitalisme lanjut”.
5.       David Harvey
Ia adalah ahli geografi Inggris yang membaca situasi masyarakat sekarang dengan menggunakan bingkai neo-Marxis. Seperti Jameson, Harvey juga membagi  kapitalisme ke dalam tahapan-tahapan atau periodesasi. Sebagian besar orang abad 20, demikian katanya, berada dalam era Fordisme. Cirri khas era Fordisme adalah keseragaman dan produksi barang yang seragam dalam skala msssal. Pada saat pasar dibanjiri barang-barang, tagihan pajak berkurang,dan inflasi menggelembung, para kapitalis menanggapi dengan model akumulasi luwes, atau yang oleh sejumlah pakar lain disebut juga ers post-Fordism. Kunci dari akumulasi luwes ini adalah kemampuan secara cepat mengubah garis produksi dan manufaktur kelompok-kelompok kecil untuk menjawab kebutuhan pasar yang beraneka ragam.
Sekarang kita kita tinggal didalam dunia dimana media, hiburan, dunia adibusana, dan citraan menjadi semakin penring, hasilnya adalah budaya yang dicirikan kedangkalan, dimana produk baru susul-menyusul dengan produk sebelumnya.
6.       Scott Lash
Menurut sosiolog asal Inggris ini, tampilnya kapitalisme erat kaitannya dengan proses diferensi, yaitu pemisahan lapisan-lapisan hidup social satu dengan yang lainnya. Lash mengatakan “modernisasi adalah sebuah proses diferensial kultural dimana: 1) yang cultural memisahkan diri dari social, dan 2) bentuk-bentuk cultural yang tadinya tidak terdistingsikan dengan jeelas mulai terbedakan satu dengan yang lainnya.”
Namun Lash berbeda dengan Harveyn Jameson dan kritikus neo-Marxis lainnya dalam menilai budaya pacamodernis, menurutnya pasca modernis mempunyai potensi kritis  dan emansipatoris. Karenanya, di masa depan, proyek kritis yang dikembangkan oleh tradisi neo-Marxis harus berani menceburkan diri di wilayah kebudayaan ini.
KRITIK DAN DEBAT
·         PERSOALAN WAKTU
Jika konsep pascamodernisme sebagai sesuatu yang ada, hadir, dan datang setelah modernism, maka kita mengalami persoalan dengan menentukan batasan dari modernisme itu sendiri. Karena itu, seperti dianjurkan oleh kritikus budaya, Craig Calhoun dalam Critical Social Theory, 1995, istilah pascamodern  lebih banyak melontarkan problematika daripada menyelesaikannya, lebih jauh lagi ia melihat pembabakan pascamodernisme sebagai semacam sejarah atau periodisasi semu yang cenderung mereduksi karya-karya artistic modernisme menjadi karikatur yang terlalu disederhanakan, mengabaikan kompleksitasnya dan melupakan eksistensi tren antimodern yang sudah ada sebelum pascamodern muncul kepermukaan.
·         PERSOALAN DEFINISI
Persoalan definisi terkait erat dengan problematika periodisasi. Ada yang mengartikan pascamodern sebagai gaya arsitektur, ada yang melihatnya sebagai semakin mengaburnya batas antara realitasdan televise,yang lain melihatnya sebagai konsumerisme dan melimpahnya pilihan, sementara bagi filsuf, pasca modernism mengacu pada situasi akal budi yang radikal dan peraggu.
·         PERSOALAN CAKUPAN
Isu yang diangkat disini adalah seputar skala dan cakupan dariperubahan social. Pendapat bahwa kita telah memasuki sebuah tatanan social dan cultural yang sama sekali baru dalah pendapat yang terlalu dilebih-lebihkan, demikian komentar dari pada kritikus.
Budaya yang dituliskan oleh kaum pascamodernis adalah budaya perayaan: perayaan kosmopolitanisme, diversitas, dan konsumsi.
·         GLOBALISASI DAN BUDAYA
Diskusi pascamodernitas tidak bisa dilepaskan dari debat hangat seputar globalisasi. Satu alasan yang diajukan disini adalah mengingat kesamaan focus perhatian dari literaturtentang globalisasi maupun diskursus pasca modernitas yaitu pada budaya. Salah satu cirri yang paling mengemuka didunia yang semakin terhubung satu sama lain atau diistilahkan sebagai kesalingterhubungan. Selain itu berkembang pengakuan atas multikulturalis, relativisme, refleksifitas,perbedaan dan prinsip terhadap konsep modernitas barat.
Untuk meringkasnya, ada tiga matra kunci dari globalisasi;
a.       Ekonomi, dikaitkan dengan naiknya pasar financial berskala global.
b.       Politik, keefektifan negara-bangsa dilampaui oleh organisasi-organisasi internasional seperti PBB dan Uni Eropa, sejalan dengan mentasnya politik dan pemerintahan berskala global.
c.       Budaya, arus informasi dan symbol di delapan penjuru dunia beserta gerak perlawanan atasnya.

Mudji Sutrisno & Hendar Purtanto 2005 Teori-Teori Kebudayaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar