XI. BUDAYA SEBAGAI TEKS
Menurut peneliti, budaya atau kehidupan sosial ditempatkan
sebagai teks yang dapat diinterpretasikan. Meskipun merupakan pusat berbagai bentuk penelitian strukturalis
dan pascastrukturalis, penelitian terhadap cerita menjadi semakin kuat dalam
bidang teori narasi dan harmaneutis.
STRUKTURALIS PUITIS (STRUKTURALIST POETICS)
Penelitian strukturalis bergerak dari penelitian Saussure
dan Levi-Strauss, dipusatkan pada paradigm budaya dengan unsur sentralnya yaitu
analisis oposisi biner. Ciri lain dari strukturalis adalah memperhatikan
investigasi terhadap cerita dengan cara menopangnya melalui penataan kata. Tema
sentralnya disampaikan dalam bentuk relasi antara alur (plot), karakter, dan jenis cerita (genre).
·
VLADIMIR PROPP (1895-1970)
Ia
merupakan seorang strukturalis awal yang mengevaluasi struktur budaya. Ia
mendahului Levi-Strauss dalam menyelidiki kisah mitologi. Propp tertarik pada
model penataan cerita tradisional secara tematis. Ia mencatat adanya kesamaan (similiarity) struktur dari ratusan
cerita yang ditelitinya.
Dari penelitian Propp , ada beberapa hal yang
perlu dipertaanyakan, misalnya apakah struktur jenis cerita yang lain mengikuti
struktur cerita rakyat? Apakah struktur cerita rakyat berhubungan dengan
kondisi kongkret dan dibutuhkan masyarakat? Apakah struktur cerita rakyat menunjukkan
sesuatu diluar dirinya sendiri?
Dilihat
dari pertanyaan diatas kelemahan Propp adalah ia tidak mengangkat persoalan
mendasar yang diajukan Levi-Strauss yaitu universalitas pasangan yang
beroposisi; kebutuhan atas mitologi untuk membantu manusia merenungkan dilema
dan eksistensi hidupnya, dan hubungan mitologi dan hasil karya pikiran manusia.
Propp lebih terlibat dalam penelitian strukturalis yang mengganti unsure
estetis dalam sastra tradisional dengan hal yang bersifat ilmiah, dan
menafsirkan dengan model bebas-nilai.
·
NORTHROP FRYE (1912-1991)
Sejak
tahun 1950-an, Northrop mencoba untuk membangun model tiruan (synthetic model). Dalam buku Anatomy of Criticism (1971[1957]) ia
mencoba untuk menata keseluruhan sastra yang ada dalam sebuah bingkai atau
penggolongan yang koheren. Menurutnya, relasi yang terstruktur dapat
menghubungkan karakter, alur dan aliran-aliran dari berbagai bentuk keusatraan.
Salah satu pemikirannya, Frye berupaya membuat teori antar alur (plot) dan jenis-jenis cerita (genre). Menurutnya, bentuk-bentuk sastra
cenderung menggunakan hal particular dengan berpegang pada tujuan utama.
Dalam
seluruh penelitiannya, Frye mempelajari narasi dalam sistematika pijakan ilmiah
dengan mengidentifikasi hal-hal mendasar yang melampaui perbedaan-perbedaan
superficial, seperti gaya, waktu, karakter tokoh. Melalui hasil interpretasi,
Frye meneliti narasi dengan menjauhi subjektivisme mennuju perbandingan formal
dalam “archetypal criticism” sastra
sebagai keseluruhan.
KRITIK TERHADAPSTRUKTUR PUITIS
Tantangan bagi “strukturalis puitis” adalah mengembangkan
perspektif yang mencakup bentuk-bentuk narasi seperti yang ditampilkan dalam
beberapa aliran sastra.
Pendekatan struktur puitis yang dicontohkan oleh Propp dan
Frye mempunyai beberapa poin penting, yaitu;
1.
Dari sudut pandang sosiologi,pendekatan ini memberikan bukti
kokoh bagi pemahaman cerita sebagai gambaran realitas social yang kadang tidak
disadari baik penulis maupun pembacanya.
2.
Membuka peluang dalam mengkonstruksi teori dan analisis
untuk mengeksplorasi makna yang terkandung dalam teks.
3.
Hadirnya makna yang terus bergerak dalam struktur yang
berulang menujukan adanya otonomi budaya terhadap teks.
4.
Eksplorasi terhadap karakter atau jenis cerita menunjukkan
adanya nilai-nilai transkultural sehingga memungkinkan penelitian secara lintas
budaya.
·
MIKHAIL BAKHTIN (1895-1975)
Cara
dialogis merupakan langkah menuju kreativitas dan aspek rasional dalam kisah
novel.Konsep utama Bakhtin adalah dialogis dan carnival. Konsep ini dipakai
untuk mengkritik “simbol” saussurian dengan menyebut symbol sebai perspektif
“objektivisme abstrak” karena gagal memahami berbagai cara perubahan makna
menurut perubahan waktu dan konteks social yang dimiliki pembaca.
Menurut
Bakhtin, pemahaman strukturalis bersifat monolog, dimana pembaca ditempatkan
secara pasif. Ia menghindari perangkap “subjektivisme individu” yang
mengartikan makna sebagai hasil proses mental personal.
Bakhtin
menekankan aturan dari konteks sejarah dalam membentuk makna kata dan tanda.
Makna kata dan tanda ini akan berubah seturut waktu, begitu jugakelas social
yang menggunakannya. Oleh karena itu, kata-kata dan tanda-tanda kerap akan
menjadi ambigu dan dikarakterkan oleh berbagai macam aksentuasi.
Bakhtin
mampu membuat teori tentang aturan bagi pembaca dan konteks local ketika masih
diakui adanya prosses pemaksaan oleh bahasa dan symbol-simbol kolektif dalam
proses interpretesi. Pemikiran dekat dengan teori pasca strukturalis yang
menekankan kompleksitas, kekuasaan dan ambivalensi.
·
BAKHTIN TENTANG CARNIVALESQUE
(KEKARNAVALAN)
Selain
dampak-dampak dalam bingkai narasi bagi peristiwa tertentu, juga dimungkkinkan
adanya penelusuran atas genre atau
bentuk narasi dan atas konsekuensi-konsekuensi yang kurang spesifik, transhistoris,
social atau politik. Dengan mencampurkan data sastra dan data sejarah, Bakhtin
menyoroti bagaimana estetika karnaval kerakyatan menggerakkan tulisan Rabelias.
Estetika ini berfokus pada hal-hal yang bersifat sensual, fantastic dan
eksesif, serta perhatian sangat besar pada genre seputar makan, ekskresi,
kekuatan, gelak tawa dan seksualitas.
·
UMBERT ECO (1932) DAN PERAN PEMBACA
Umberto
Eco adalah seorang ahli semiotic Italia, ia mengemukakan bahwa “pengarang
haruslah berusaha agar perangkat sandi yang ia yakini dapat ditangkap calon
pembaca. Pengarang harus dapat memahami calon pembacanya”.
Eco
membedakan antara teks tertutup dan terbuka. Teks tertutup merupakan karya
populis yang bertujuan memunculkan tanggapan para pembaca empiris, sebaliknya
teks terbuka dirancang untuk memberi jalan bagi munculnya penafsiran jamak.
Peranan pembaca dalam teks tertutup maupun teks terbuka, eco menyoroti peranan
antisipasi, lompatan penyimpulan, fantasi, identifikasi dan tindakan pemecahan
masalah.
Tiga
hal yang ditegaskan Eco menyangkut peran pembaca
a.
Sandi semiotic dan sandi narasi bukanlah semata-mata hasil
logika atau tata bahasa cultural transedental, melainkan sebuah akibat dari
strategi tekstual dimana pengarang berusaha berkomunikasi dengan pembaca.
b.
Pembaca memiliki kebebasan untuk menafsir, dalam menelaah
konstruksi makna juga harus diamati sandi-sandi cultural teks.
c.
Teks akan beragam sesuai dengan apa yang diharapkan untuk
menutup kebebasan penafsiran pembaca.
·
NARASI DAN PROSES SOSIAL
Analisis
narasi merupakan merupakan aktivitas kaum teoretikus sastra yang tertarik pada
studi teks, ranah ini banyak membahas isi kebudayaan dan lewat model ketat
serta structural, memberi dasar perumusan otonomi bentuk-bentuk kebudayaan. Hal
ini secara umum dapat diamati tiga tema pokok;
a.
Studi tentang genre dan
audiens. Studi ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa bentuk narasi tertentu,
menarik dari kelompok tertentu, atau bagaimana bentuk narasi itu berlembaga dan
tersebar luas.
b.
Telaah dan narasi dalam metodologi kualitatif. Sastrs ini
berkembang luas dalam studi wawancara dan terutama penyelidikan kaum feminis
dan kaum interaksionis tentang pengalaman pribadi yang diajukan teori kritis
atau teori pasca structural.
c.
Sandi tentang aspek naratif hidup social dan politik. Studi
ini menyelidiki peristiwa social dan historis sebagaimana dibentuk wacana,
serta menunjukan bahwa peristiwa itu sering kali mempunyai matra naratif.
·
VICTOR TURNER DAN DRAMA SOSIAL
Turner
melihat hidup social sebagai sebuah tampilan yang memuat imajinasi, permainan,
dan kretivitas. Meskipun makna diterapkan setelah kejadian (post-hoc) dalam cerita tentang peristiwa
sejarah, maka juga mempengaruhi aktivitas para pelaku kokngkret yang terlibat
dalam peristiwa kongkret.
Karya
turner berpusat pada proses strukturisasi drama social. Menurutnya, drama
social sering menunjukkan karakteristik yang menyerupai alur dan rentetan
peristiwa biasa yang bisa dikelompokkan kedalam fase-fase yang saling
menggantikan/suksesif.
Dalam
risetnya, Turner paling berminat meneliti soal krisis empat fase yang berciri
universal;
a.
Pembangkangan (breach)
yakni pelanggaran public atas aturan atau patokan komunitas tertentu.
b.
Terjadinya krisis (crisis)
yakni periode skisma social saat masyarakat mengambil sikap.
c.
Penarikan diri (redress)
yang terjadi pada saat upaya-upaya pemulihan konflik dan arbitrasi dimulai.
d.
Penyatuan kembali (reintegration)
yang meliputi upaya menggabungkan kembali kelompok-kelompok social yang tadinya
membangkang kedalam masyarakat umum atau pengakuan dan legitimasi atas siksma
yang telah terjadi.
Analisis narasi dan politik
·
HERMENEUTIKA
Ada
jalinan erat antara tradisi
hermeneutikan dalam ilmu-ilmu social dan mereka yang mengajukan pentingnya atau
sentralnya narasi dalam hidup social. Hermanautika membahas makna dan
pembahasan bersama, dan secara tradisional ia bersifat subjektif, humanistic,
individualistic, estetis, filosofis, dan berorientasi fenomenologis.
Dua
sumbangan pokok dari Hans Georg Gadamer dan Paul Ricoeur dalam ranah
hermeneutika dan studi kebudayaan;
a.
Keduanya menekankan rekonstruksi sitem makna yang menjadi
basis infosmasi tindakan penulisan. Selain bersifat personal dan psikologis,
sistem ini bisa diletakkan dalam konteks budaya yang lebih luas yang digunakan
pengarang dalam penciptaan teks. Rekonstruksi ini penting bagi suatu
pembentukan kerangka atau cakrawala tafsir (horizon
of interpretation), yang dengannya
teks bisa didekati dan dipahami dengan keakuratan tertentu oleh si pembaca.
b.
Argument Gadamer dan Ricoeur brjasa memberikan dasar-dasar
filosofis untuk melegitimasi pendekatan hermeneutis dalam studi ilmu-ilmu
social.
·
CLIFFORD GEERTZ
Geertz
adalah penganut Parsons. Dalam perkembangannya ia meninggalkan teori Parsons.
Geertz menegaskan bahwa budaya adalah suatu dimensi yang aktif dan konstitutif
dari kehidupan social daripada sekedar mekanisme penjamin integrasi social.
Geertz mulai meninggalkan istilah norma-norma dan nilai-nilai untuk menjelaskan
kehidupan budaya.selanjutnya ia beralih pada pemahaman yang jauh lebih kaya
tentang kebudayaan.
Karakteristik
penyelidikan Greetz adalah bahwa ia enggan menggunakan teori umum atau berusaha
membangun model-model umum, peristiwa dijelaskan dalam istilah local terkadang
agak relativities atau tautologies. Dalam pandangannya, seorang teoretikus
adalah seorang penafsir yang menerjemahkan dunia-dunia makna budaya yang mereka
pelajari kedalam idiom pembaca-pembaca mereka. Geertz juga menyoroti fakta
bahwa antropologi merupakan proses tekstual daripada praktek ilmiah.
·
SEJUMLAH KRITIK
Kebudayaan bukan lagi dilihat sebagai suatu “yang berada
diluar sana” yang menuggu direkam, melainkan lebih dilihat sebagai suatu yang
dikonstruksi secara aktif lewat gugus kegiatan para etnografer. Budaya itu
dipertandingkan, budaya bersifat sementara, dan tampil (hadir). Oleh karena
itu, yang diperlukan adalah studi mengenai representasi-representasi dan
cara-cara membangun realitas yang ingin mereka gambarkan. Budaya kini bisa
dilihat sebagai wilayah pertandingan gugus representasi dan wacana, yang
berjuang untuk mendapatkan pengakuan, otoritas, dan suara.
XII. ANALISIS BUDAYADARI PASCAMODERNISME DAN PASCAMODERNITAS
KLARIFIKASI SEJUMLAH DEFINISI POKOK
a.
Defenisi
pascamodernisme. Pascamodernisme tidak memiliki definisi tunggal yang
selalu kita acu dan jadikan pegangan. Namun setidaknya pascamodernisme
mempunyai dua karakter pokok; pertama
gaya estetis dan artistic yang menolak kode-kode artistic dak estetis dari era
modernism. Kedua posisi teoritis dan
filosofis yang menolak kaidah-kaidah pemikiran modern.
b.
Definisi
pascamodernitas. Sebuah tahap perkembangan social yang dipikirkan sebagai
melampaui modernitas. Ide pokok yang diangkat disini ialah bahwa telah terjadi
perubahan yang radikal dari ekonomi era industry yang berkekuatan seputar
produksi barang dan jasa menuju ekonomi pasca industry yang diorganisasikan
seputar konsumsi budaya, permainan media massa, dan perkembangan teknologi
informasi.
c.
Definisi
pasca modernisasi. Sejumlah proses perubahan social yang mengarah pada
transisi dari modernitas menuju pascamodernitas.
d.
Globalisasi.
Proses dimana dunia tempat kita hidup menjadi semakin terhubung satu sama lain,
dan dunia dimana batas-batas politis, budaya, ekonomis yang tadinya ada
sekarang semakin rapuh, mengabur, bahkan dianggap kurang relevan.
Cirri budaya masyarakat modern.
a.
Pengaruh budaya dan media massa menjadi sedemikian kuat
dalam hidup social daripada era sebelumnya.
b.
Hidup social dan ekonomi lebih berkisat pada konsumsi
symbol-simbol dan gaya hidup daripada produksi barang yang menjadi cirri khas
sierra industry.
c.
Serangan atau kritik atas ide tentang realitas dan
representasinya.
d.
Muncul aneka ragam parody, pastiche, ironi, kitsch, dan
elektisme pop seperti tampak dalam pementasan kesenian tradisional.
e.
Bentuk arsitektur urban menjunjukan gejala penonjolan
hiburan, “leha-leha” dan gaya hidupseperti paling jelas tampak dalam
pusat-pusat perbelanjaan, taman hiburan dan komplek hunian seperti real estate,
kondominium dan apartemen.
f.
Hibridas dipuja, rigiditas distingsi (klasifikasi,
batas-batas, seperti batas budaya tinggi atau elite dan budaya rendah atau
populer) semakin mengabur atau bahkan ditinggalkan.
PASCAMODERNISME DALAM BERBAGAI BENTUKNYA
·
PASCAMODERNISME
DALAM ARSITEKTUR
Arsitektur modern mempunyai 3 ciri pokok;
1.
Bentuk cenderung sebangun (univalent)
2.
Bangunan dikonstruksi seturut metafora mesin era industry
3.
Para desainer mempunyai ide-ide utopis.
4.
Kritik senada diutarakan Robert Venturi dan kawan-kawan,
menurut mereka, para arsitek perlu lebih memahami dan kurang otoriter dalam
orientasi.
Cirri pokok arsitektur pascamodern;
1.
Member tekanan pada desain yang main-main dari pada serius.
2.
Elektisme radikal, hybrid dan adhock-ism menggantikan
keseragaman monumental.
3.
Bentuk bangunan cenderung meniru gaya atau bentuk bangunan
yang lain dan cenderung meleburkannya dalam pastiche
yang ironis daripada berusaha untuk membuat sebuah karakter yang khas-personal.
4.
Desain cenderung terfragmentasi, diman bagian-bagian dari
bangunan terpasangkan secara fungsional dan estetis, namun sekaligus terisolasi
satu sama lain msing-masing dengan gaya dan lingkungan sendiri-sendiri.
5.
Bangunan berorientasi pada pemenuhan atau menjawab kebutuhan
orang biasa, dank ode semiotic yang bisa mereka tangkap dan mereka nikmati.
6.
Penggunaan kurva dan gang buntu alih-alih trapezium dan
garis lurus.
·
PASCAMODERNISME
DALAM SENI DAN SASTRA
Perkembangan
serupa juga terjadi diranah seni dan
sastra, kode-kode estis dari modernisme biasanya menjunjung tinggi karya-karya
yang serius, yang konsisten secara internal, inovatif, dalam, abstrak dan
digarap oleh sosok individu yang jenius. Selain itu seni modern kurang lebih
merayakan nalar, tatanan, dan pengetahuan sekaligus membawa pesan-pesan
tertentu tentang bagaimana dunia itu.
Sebaliknya,
karya seni pacsamodern digerakkan oleh roh estetisyang berbeda. Mereka
cenderung bercirikan main-main, terpecah, sering kali menggunakan pastiche dan mereplikasi, merayakan sisi
irasional dan trkadang juga membuka ruang seluas-luasnya untuk tafsir tanpa
perlu menjadi pakar terlebih dulu dibidang seni.
Karya-karya
pasca modern juga tidak jarang mempersoalkan disintegrasi atara kebudayaan
tinggi dan rendah. Dalam ranah sastra dan perfilman tampak jelas penolakan
terhadap alur tutur tradisional dan bahwa film dan karya sastra harus membawa
atau menyampaikan pesan moral tertentu yang jelas.
·
PASCAMODERNISME
DALAM TEORI-TEORI SOSIAL
1.
Jean-Francois Lyotard (1905-1998)
Diakui
sebagai salah seorang konseptor awal dari pascamodernisme, Lyotard yakin bahwa
masyarakat iru disusun bukan melulu berdasarkan teknologi, namun juga seputar
permainan bahasa dan diskursus. Maka ia mencoba membetot perhatian kita pada peran
narasi-narasi dalam hidup social. Dalam masyarakat nonindusrtri, mitos dan
cerita mempunyai karakter religious dan ikut membantu menciptakan tatanan
social.
Dewasa
ini menurut Lyotard kita memasuki pintu gerbang era pascamodern dimana sains,
teknologi dan sistem administrasi yang njlimet,
serta computer berkembang sedemikian pesat sehingga pengetahuan menjadi prinsip
produksi yang menentukan selama beberapa decade ini.
Pengetahuan
dan informasi berkembang menjadi dua macam cara yang saling berkaitan; pertama, pengetahuan dan informasi diproduksi
hanya jika mereka bisa dinilai berdasarkan efisiensi dan evektifitas atau dalam
terminology khas Lyotard, prinsip performativitas. Kedua, pengetahuan atau informasi semakin diperlakukan sebagai
sebuah komoditas. Informasi menjadi sebuah fenomena yang bisa diperdagangkan.
2.
Jean Baudrillard
Seperti
Lyotard, Baudrillard adalah seorang tokok kunci pemikir atau teoretikus konsep
pascamodern. Baudrillard melihat bahwa dalam masyarakat consumer, orang
mengafirmasi identitas sekaligus perbedaannya, dan mereka juga mengalami
kenikmatan lewat membeli dan mengonsumsi sistem tanda-tanda yang dimiliki
bersama. Kode ini menjadi sedimikian dominan sehingga kita terdorong untuk
mempertanyakan sejumlah konsep-konsep pembeda yang selama ini kita terima
begitu saja seperti budaya dan realitas.
Dengan
demikian, kita mengalami satu sama lain sebagai semata-mata para pemain dalam
lapangan tanda-tanda, dan secara pasif kita mengalami kejutan-kejutan dan pengilon (simularca) yang merefleksikan satu sama lain.
3.
Daniel Bell
Daniel
Bell dianggap sebagai seorang pemikir modern yang berhasil menyoroti kekuatan
pengetahuan dan budaya yang semakin meningkat dalam masyarakat kontemporer.
Menurut Bell kita mengalami evolusi dari masyarakat industry menuju masyarakat
pascaindustri. Masyarakat kontemporer, yang ada dalam benak Bell adalah
masyarakat pascaindustri seperti Amerika Serikat, terbagi menjadi tiga ranah yaitu
struktur social, politik, dan budaya. Hadirnya masyarakat pascaindustri
meliputi perubahan dalam struktur social, khususnya ekonomi, dunia kerja dan
sains-teknologi.
4.
Fredric Jameson
Untuk
menjelaskan bangkitnya kesenian pascamodernis, Jameson menggunakan kerangka
berfikir neo-Marxis. Lewat kerangka berfikir tersebut ia melihat bahwa kita
sekarang telah memasuki fase kapitalisme lanjut yang mempunyai ciri-ciri;
a.
Sirkulasi taanda dan symbol yang tak ada henti-hentinya.
b.
Arus informasi berskala global.
c.
Konsumsi imaji yang hedonis.
Ekonomi
yang mendasarkan diri kepada konsumsi imaji inilah iang oleh Jameson disebut
sebagai ‘’logika budaya kapitalisme lanjut”.
5.
David Harvey
Ia
adalah ahli geografi Inggris yang membaca situasi masyarakat sekarang dengan
menggunakan bingkai neo-Marxis. Seperti Jameson, Harvey juga membagi kapitalisme ke dalam tahapan-tahapan atau
periodesasi. Sebagian besar orang abad 20, demikian katanya, berada dalam era
Fordisme. Cirri khas era Fordisme adalah keseragaman dan produksi barang yang
seragam dalam skala msssal. Pada saat pasar dibanjiri barang-barang, tagihan
pajak berkurang,dan inflasi menggelembung, para kapitalis menanggapi dengan
model akumulasi luwes, atau yang oleh sejumlah pakar lain disebut juga ers post-Fordism. Kunci dari akumulasi luwes
ini adalah kemampuan secara cepat mengubah garis produksi dan manufaktur
kelompok-kelompok kecil untuk menjawab kebutuhan pasar yang beraneka ragam.
Sekarang
kita kita tinggal didalam dunia dimana media, hiburan, dunia adibusana, dan
citraan menjadi semakin penring, hasilnya adalah budaya yang dicirikan
kedangkalan, dimana produk baru susul-menyusul dengan produk sebelumnya.
6.
Scott Lash
Menurut
sosiolog asal Inggris ini, tampilnya kapitalisme erat kaitannya dengan proses
diferensi, yaitu pemisahan lapisan-lapisan hidup social satu dengan yang
lainnya. Lash mengatakan “modernisasi adalah sebuah proses diferensial kultural
dimana: 1) yang cultural memisahkan diri dari social, dan 2) bentuk-bentuk
cultural yang tadinya tidak terdistingsikan dengan jeelas mulai terbedakan satu
dengan yang lainnya.”
Namun
Lash berbeda dengan Harveyn Jameson dan kritikus neo-Marxis lainnya dalam
menilai budaya pacamodernis, menurutnya pasca modernis mempunyai potensi
kritis dan emansipatoris. Karenanya, di
masa depan, proyek kritis yang dikembangkan oleh tradisi neo-Marxis harus
berani menceburkan diri di wilayah kebudayaan ini.
KRITIK DAN DEBAT
·
PERSOALAN
WAKTU
Jika
konsep pascamodernisme sebagai sesuatu yang ada, hadir, dan datang setelah
modernism, maka kita mengalami persoalan dengan menentukan batasan dari
modernisme itu sendiri. Karena itu, seperti dianjurkan oleh kritikus budaya,
Craig Calhoun dalam Critical Social
Theory, 1995, istilah pascamodern
lebih banyak melontarkan problematika daripada menyelesaikannya, lebih
jauh lagi ia melihat pembabakan pascamodernisme sebagai semacam sejarah atau
periodisasi semu yang cenderung mereduksi karya-karya artistic modernisme
menjadi karikatur yang terlalu disederhanakan, mengabaikan kompleksitasnya dan
melupakan eksistensi tren antimodern yang sudah ada sebelum pascamodern muncul
kepermukaan.
·
PERSOALAN
DEFINISI
Persoalan
definisi terkait erat dengan problematika periodisasi. Ada yang mengartikan
pascamodern sebagai gaya arsitektur, ada yang melihatnya sebagai semakin
mengaburnya batas antara realitasdan televise,yang lain melihatnya sebagai
konsumerisme dan melimpahnya pilihan, sementara bagi filsuf, pasca modernism
mengacu pada situasi akal budi yang radikal dan peraggu.
·
PERSOALAN
CAKUPAN
Isu
yang diangkat disini adalah seputar skala dan cakupan dariperubahan social.
Pendapat bahwa kita telah memasuki sebuah tatanan social dan cultural yang sama
sekali baru dalah pendapat yang terlalu dilebih-lebihkan, demikian komentar
dari pada kritikus.
Budaya
yang dituliskan oleh kaum pascamodernis adalah budaya perayaan: perayaan
kosmopolitanisme, diversitas, dan konsumsi.
·
GLOBALISASI
DAN BUDAYA
Diskusi
pascamodernitas tidak bisa dilepaskan dari debat hangat seputar globalisasi.
Satu alasan yang diajukan disini adalah mengingat kesamaan focus perhatian dari
literaturtentang globalisasi maupun diskursus pasca modernitas yaitu pada
budaya. Salah satu cirri yang paling mengemuka didunia yang semakin terhubung
satu sama lain atau diistilahkan sebagai kesalingterhubungan. Selain itu
berkembang pengakuan atas multikulturalis, relativisme, refleksifitas,perbedaan
dan prinsip terhadap konsep modernitas barat.
Untuk
meringkasnya, ada tiga matra kunci dari globalisasi;
a.
Ekonomi, dikaitkan dengan naiknya pasar financial berskala
global.
b.
Politik, keefektifan negara-bangsa dilampaui oleh
organisasi-organisasi internasional seperti PBB dan Uni Eropa, sejalan dengan
mentasnya politik dan pemerintahan berskala global.
c.
Budaya, arus informasi dan symbol di delapan penjuru dunia
beserta gerak perlawanan atasnya.
Mudji Sutrisno & Hendar Purtanto 2005 Teori-Teori Kebudayaan
Mudji Sutrisno & Hendar Purtanto 2005 Teori-Teori Kebudayaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar